SMP Mardi Yuana Cipanas


Data Umum
 
Nama Sekolah   :   SMP Mardi Yuana Cipanas
Berdiri   :   1 Agustus 1950
Pengukuhan SK Pendirian        
Yayasan   :   050.40.KEP.Y.83
Depdikbud   :   IV/6/26, tanggal 1 Agustus 1951
Akreditasi   :   Disamakan
Izin        
NDS   :   2002070016
NIS   :   211003
Alamat   :   Jl. Raya Cipanas, Pacet, Telp. (0263) 512325, Sindanglaya - 43253

 

 Sejarah

 

Pada Tahun 1950 di wilayah Kecamatan Pacet khususnya, belum ada Sekolah Menengah Pertama, sehingga anak-anak yang tamat Sekolah Rakyat sekrang menjadi Sekolah Dasar (SD), jika ingin melanjutkan ke SMP harus ke Cianjur atau ke kota lain. 

Seiring dengan dibukanya Panti Asuhan Santo Yusup di sindanglaya yang menampung anak-anak yatim piatu dari berbagai daerah yang bersekolah di SD Mardi Yuana Sindanglaya, pada tanggal 6 Agustus 1949 Pater Antonius Suyitno yang ditugaskan memimpin Panti Asuhan Santo Yusup tergugah dan terpanggil untuk memikirkan kelanjutan pendidikan anak-anak lulusan SD, sehingga beliau berkeinginan untuk mendirikan SMP di Cipanas.

Beranjak dari keinginan itu, beliau mulai merintis mendirikan SMP sehingga pada tanggal 15 Mei 1950 beliau membuat surat pemberitahuan yang ditujukan kepada Bapak penilik Sekolah Dasar Pacet - Cipanas yang isinya bahwa beliau membuka SMP di Cipanas. Sekolah itu diusahakan oleh perkumpulan Rechtspersoon yaitu "Mardi Yuana Stichting", yang berpusat di jalan Gunung Parang No. 32 Sukabumi dengan akta ddo 26 Agustus 1949 Nomor Notaris SIE KHWAN DJIE. Pada tanggal 1 Agustus 1950, SMP Mardi Yuana Cipanas mulai melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar kelas I dengan jumlah murid 20 orang yang terdiri dari 11 orang siswa puteri dan 9 orang putera, tempat yang digunakan sebuah paviliyun milik Praefectura Sukabumi yang berada di belakang Gereja Katolik Cipanas. Waktu itu setiap anak yang masuk ke SMP Mardi Yuana Cipanas dikenakan biaya uang sekolah sebesar Rp. 10.00 perbulan dan uang pangkal Rp. 10,00. Tetapi dalam kenyataannya tidak semua anak yang masuk mampu membayar sesuai ketentuan. Karena misi yang diemban oleh Pater Antonius Sujitno yaitu Cinta Kasih, maka tidak seorang siswa pun yang ditolak untuk masuk ke SMP Mardi Yuana Cipanas, bahkan mereka yang tidak mampu masih dilayani dengan baik. Karena jumlah siswa meningkat, maka pada tahun 1951 - 1952 SMP Mardi Yuana Cipanas membangun 3 ruang kelas. Kelas 2 jumlah siswanya 17 orang dan kelas 1 berjumlah 26 orang. Besar uang sekolah dan uang pangkal sama seperti tahun lalu.

Pada tahun 1952 - 1953 kelas 3 jumlah siswanya 17 orang, kelas 2 sebanyak 22 orang dan kelas 1 sebanyak 31 orang tetapi uang sekolah dan uang pangkal masih tetap seperti tahun sebelumnya.

 

Para Tokoh Pendiri SMP Mardi Yuana Cipanas

 

  1. Pater Antonius Sujitno, sebagai Kepala Sekolah dan mengajar Bahasa Indonesia, Sejarah Dunia, Sejarah Umum dan Budi Pekerti. 
  2. Pater Yacobus Andrianus Nouwens, mengajar Ilmu Pasti, Ilmu Alam, Ilmu Hayat, Seni Suara dan menggambar.
  3. Pater Wilhelmus Antonius Joseph Kohler, mengajar Bahasa Inggris, Ilmu Tumbuh-tumbuhan dan Seni Suara.
  4. Pater Andrianus Gerardus Cornelius Vurgs, mengajar Ilmu Pengetahuan Dagang dan Bahasa Inggris.

Setelah SMP Mardi Yuana berkarya satu tahun tepatnya tanggal 1 Agustus 1951 SMP Mardi Yuana Cipanas mendapat surat Pengukuhan dengan Nomor Register IV/6/26. Salah seorang murid SMP Mardi Yuana Cipanas pertama bernama Aminatum yang sekarang masuk Biarawati dengan nama yaitu Sr. M. Gerarda, SFS.

Karena sebagian besar siswa yang masuk ke SMP Mardi Yuana Cipanas beragama islam, maka mulai tahun 1956 setelah bapak tatang Arifien menjadi guru di SMP Mardi Yuana Cipanas, pelajaran pendidikan agama yang diajarkan dibagi menjadi dua, yaitu pendidikan Agama Islam yang dipegang oleh Bapak tatang Arifien dan pelajaran Budi Pekerti oleh pater. Sehubungan dengan hal tersebut, maka minat penduduk sekitar untuk melanjutkan sekolah ke SMP Mardi Yuana Cipanas semakin banyak.

Seiring dengan perkembangan jaman dan minat anak-anak untuk melanjutkan ke SMP semkain banyak, SMP Mardi Yuana Cipanas tidak mampu lagi menampung murid. Untuk itu dicari jalan keluar yaitu dengan memindahkan lokasi sekolah ke lokasi yang baru.