SD Mardi Yuana Cilegon


DATA UMUM    
Nama Sekolah  :    Sekolah Dasar Mardi Yuana Cilegon 
Berdiri   :    1 September 1958 
Pendiri   :    Telentong, Merry, Lauceng 
N D S :   1002270201
N S S :   101020117030
Status :   Disamakan
Alamat :   Jl. Raya Serang No 78, Cibeber, Cilegon, Banten 42421
Telepon :   0254 380461
 
VISI

Bermutu, Mandiri, Berdaya Pikat, Berdaya Tahan, dan Memasyarakat

       
MISI
  1. Mewujudkan budaya kerja yang kondusif dan produktif
  2. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia
  3. Mengembangkan kerja sama secara efektif dan efisien
  4. Membina organisasi secara konsisten
  5. Meningkatkan mutu sekolah secara berkesinambungan
 

SEJARAH

Kurun waktu masa sesudah kemerdekaan di wilayah Banten khususnya Cilegon untuk dunia pendidikan kaum keturunan etnis Thionghoa/Cina mengalami kesulitan. Hal ini karena faktor diskriminasi akan penduduk pribumi dan keturunan asing ataupun sikap fanatik akan agama. Maklum mayoritas kehidupan di Banten yang berbau muslim dan fanatik yang berlebihan sangat sulit untuk menerima keberadaan kaum keturunan. Sehingga anak-anak keturunan ini yang hidup membaur di sekolah-sekolah negeri menjadi bahan ejekan atau cemoohan.

Dengan latar belakang tersebut, pada tanggal 1 September 1958 kaum keturunan yang berjiwa nasional dan mau menjadi WNI yang baik membentuk wadah untuk pendidikan putra-putrinya, dengan mendirikan sekolah yang bersifat nasional yang bisa menampung kaum pribumi maupun pendatang (khususnya Cina).

Tokob-tokoh pendiri SD ini antara lain : Telentong, Merry, dan Tante Lauceng. Tokoh ini pengikut Katolik yang mendapat persetujuan dari Romo Gereja Kristus Raja, yaitu Romo Tono.

Tempat penyelenggaraan sekolah di Jalan Pagebangan. Pada tahun ajaran 1963/1964, jumlah siswa 6 anak, tetapi proses pembelajaran tetap berjalan baik.Karena peristiwa G 30 S PKI tahun 1965, gedung sekolah dijadikan ajang untuk rapat orang PKI. Dampaknya sekolah ini bubar. Tiga bulan setelah gerakan ini, sekitar bulan Desember 1965, tokoh masyarakat yang cinta akan pendidikan mengadakan musyawarah yang disaksikan aparat, mengambil alih sekolah untuk diaktifkan kembali. Tokoh yang menghidupkan kembali sekolah ini adalah Bpk. Dipo. Beliau adalah keturunan Cina, namun pribadinya menyatu sebagai WNI yang bertanggung jawab untuk kemajuan pendidikan kaum muda.

Bpk. Dipo sebagai pengurus PMOG/BP3 merasa tertantang untuk berkorban baik secara materil maupun spirituil untuk kemajuan sekolah ini. Untuk pertama sekolah ini dipimpin oleh Bpk. Wardal yang dibantu para guru.

Secara hirarki keberadaan sekolah ini d bawah Yayasan Mardi Yuana yang berpusat di Sukabumi. Pengaturan kurikulum juga mengikuti Yayasan, walaupun pembiayaan operasional dan penggajian para guru menjadi tanggung jawab PMOG atau orangtua murid.

Antusias masyarakat terhadap sekolah ini semakin besar dan baik. Hal ini terbukti dengan hasil-hasil lulusan dari tahun 1970 sampai 1980 yang tercatat 21 anak dalam satu angkatan berhasil lulus dan telah menjadi sarjana. Hal tersebut menjadi faktor pendorong dan daya tarik sekolah terhadap masyarakat akan potensi Mardi Yuana. Hal ini tentu memikat hati masyarakat untuk menyekolahkan anaknya ke SD Mardi Yuana Cilegon.

Beberapa bukti hasil sekolah ini adalah Paulus Suryo, seorang anak memiliki IQ tinggi. Ia belajar SD dan SMP di Mardi Yuana. Pribadi Paulus Suryo ini diakui oleh B.J. Habibie dengan mengatakan “Kamu lebih pandai dua tingkat daripada saya”. Kemudian Paulus Suryo studi di ITB, dan setelah itu belajar lagi ke Inggris, menetap dan tinggal di sana.

Kepesatan kemajuan SD Mardi Yuana memerlukan tempat yang memadai. Hal ini disikapi oleh Bpk. Ika Elias, pengurus PMOG saat itu untuk mengusahakan tempat. Tahun 1976 berhasil membeli tanah dan bangunan gudang seluas 1.2002, dengan 50% pembiayaan diusahakan melalui orangtua siswa dan 50% oleh Mgr. N.J.C. Geise OFM sebagai pengurus Yayasan Mardi Yuana. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan PMOG berperan besar dalam mewujudkan SD Mardi Yuana Cilegon. Bukti ini dipertajam juga bahwa para pengurus PMOG mau terjun langsung sebagai pengajar di sekolah ini.

Pada 1987 PMOG ditiadakan oleh Romo Teguh. Sekolah Mardi Yuana sepenuhnya ditanggung Yayasan. Kemudian Yayasan membeli dua bidang tanah 3202 dan 4002 untuk menambah lokal gedung sekolah. Pada saat itu Yayasan Mardi Yuana dipimpin oleh Sr. Yoanita, SFS.